Postingan

Puisi Persahabatan

Teman-teman, Pernahkah bertanya "Apa yang membawaku ke sini? Apa yang membuatku datang ke tempat ini?" Kuliah? Kerja? Cari ilmu? Rasanya tidak. Pernahkah teman-teman berfikir bahwa mungkin saja takdir berperan dalam pertemuan kita? Bahwa ada sedikit keinginan untuk menemukan teman yang berasal dari akar yang sama yang mungkin bernasib sama? Sebagian dari kita mungkin berfikir demikian. Atau mungkin kita salah; ternyata kita semua berfikir demikian. Saya mengetahui, teman-teman datang ke tempat ini tidak dengan harapan kosong. Pasti ada seorang, dua orang, atau beberapa orang spesifik yang ingin teman-teman temui. Orang-orang tertentu yang memiliki perannya masing-masing dalam tiap langkah teman-teman di kota ini. Teman-teman yang membuat kita belajar bahwa segalanya tidaklah seperti yang nampak. Kita selalu dibuat belajar, menemukan hal baru, dan mengembangkan diri. Terimakasih yang terucap dihadapan ataupun di dalam doa rasa-rasanya tidaklah cukup untuk diberikan...

Virtual Diary: #Dua

20/09/2017 1:00 a.m., Malang Tired, bukduchilsang in background, beautiful. It really was hard, today. But in the end of the day, this 1:xx a.m., when I lay on my bed with the thoughts in my head about how the world works and the way it should works, I gave up all those thoughts and just think about one thing out of the blue: life is just beautiful. It could be beautiful in a thousand ways. It will be as sparkle as firework and mesmerize everyone; or it will be just simply beautiful, like a mother's smile. That, was beautiful.

That Time, Helplessly...

Gambar
As it was the last day I have here for this time, I want to rewrite my way back home, and savor every moment we past through together. Papa, that evening, on my last day there, you picked me up from a friend's house. In that peaceful and lovely evening, I sat on the backseat of the cycle you ride. At that time, I already thought, that our way back home is gonna be tough. I almost say I love you, but afraid that you gonna mock me. I don't want the love I almost never speak up being returned with your typical joke, though I love every single joke you throw every time we sit together as the whole family. So we talked about the things we've wanted to have but you feel troubled because of Mommy's worry. I remembered I reassured you that I could have myself without that thing. That time, the moon was shining so bright. I almost think that the moon was needed to eavesdropping to our talk because she got jealous at every loving tune we speak off. Just around that ...

A Damn Week Before

Gambar
It wasn't the first time. We did it for so many times. Yet it never been an easy thing to do. It wasn't my first six months study. It wasn't my first semester. Yet it still so hard to face what's coming next. 'Cause I know I won't have you with me. You won't be there by my side. We may still had a conversation, and you'd always be the first to connect the line. All the voices and whispers, all of our virtual meetings, I still can't get enough of them. The truth is, I know it's hard for both of us; even before we parted. Tonight, in this very midnight, is a damn week before I depart, and I'm wide awake thinking about the words I supposed to say that day. Or the day before, or two days before. It was still the hardest part of goodbye I've ever known. The saddest thing here was, I was the one who planned for all the goodbyes.

Mungkin

Mungkin saya sudah tidak mencintai kamu lagi. Mungkin kamu masih menghantui saya, hanya karena mungkin cuma kamu yang saya pernah ketahui. Mungkin jika ada orang lain, saya akan berhenti mengaitkan segala hal denganmu. Mungkin jika saya ingin sedikit membuka hati saya, mungkin dengan sedikit bantuan, kamu mungkin tidak akan ada apa-apanya. Mungkin jika saya bersama orang lain, kamu tidak akan pernah terkenang. Mungkin saya akan bahagia dengan seseorang itu. Mungkin juga cerita saya dan dia akan berakhir seperti cerita saya dan kamu. Tetapi bila kemudian saya patah hati lagi, mungkin bukan kamu yang mematahkannya. Mungkin dia orang lain yang sepertimu, tapi mungkin tidak sepertimu. Mungkin dia.

Kawan-Lawan

Jika kamu takut untuk dekat denganku karena kamu akan dibenci, maka kamu punya hak untuk menjauhiku. Aku tak akan meminta kamu tetap tinggal dan melihatmu membelaku. Aku akan tetap tinggal dan menyaksikan kepergianmu, teman. Pada akhirnya, yang kupunya hanyalah diriku sendiri. Sakit memang, munafik jika aku berkata tidak. Karena luka yang sebenarnya bukanlah datang dari tajamnya lidah lawan, tetapi diamnya kawan kita.

Bayang-bayang

Selama ini ternyata bukan hanya aku yang tidak pernah berhenti mencintaimu, tetapi kamu juga yang tidak pernah berhenti mencintainya. Kita terjebak dalam jalur spiral melingkar yang tidak berujung. Aku mungkin hampir berhasil menggapaimu, tapi kamupun juga hampir berhasil menggapainya. Akhirnya semua yang kukejar, semua yang kudengar, semua yang kubaca, semua yang kudapatkan hanyalah bayang-bayangmu.