Postingan

A Damn Week Before

Gambar
It wasn't the first time. We did it for so many times. Yet it never been an easy thing to do. It wasn't my first six months study. It wasn't my first semester. Yet it still so hard to face what's coming next. 'Cause I know I won't have you with me. You won't be there by my side. We may still had a conversation, and you'd always be the first to connect the line. All the voices and whispers, all of our virtual meetings, I still can't get enough of them. The truth is, I know it's hard for both of us; even before we parted. Tonight, in this very midnight, is a damn week before I depart, and I'm wide awake thinking about the words I supposed to say that day. Or the day before, or two days before. It was still the hardest part of goodbye I've ever known. The saddest thing here was, I was the one who planned for all the goodbyes.

Mungkin

Mungkin saya sudah tidak mencintai kamu lagi. Mungkin kamu masih menghantui saya, hanya karena mungkin cuma kamu yang saya pernah ketahui. Mungkin jika ada orang lain, saya akan berhenti mengaitkan segala hal denganmu. Mungkin jika saya ingin sedikit membuka hati saya, mungkin dengan sedikit bantuan, kamu mungkin tidak akan ada apa-apanya. Mungkin jika saya bersama orang lain, kamu tidak akan pernah terkenang. Mungkin saya akan bahagia dengan seseorang itu. Mungkin juga cerita saya dan dia akan berakhir seperti cerita saya dan kamu. Tetapi bila kemudian saya patah hati lagi, mungkin bukan kamu yang mematahkannya. Mungkin dia orang lain yang sepertimu, tapi mungkin tidak sepertimu. Mungkin dia.

Kawan-Lawan

Jika kamu takut untuk dekat denganku karena kamu akan dibenci, maka kamu punya hak untuk menjauhiku. Aku tak akan meminta kamu tetap tinggal dan melihatmu membelaku. Aku akan tetap tinggal dan menyaksikan kepergianmu, teman. Pada akhirnya, yang kupunya hanyalah diriku sendiri. Sakit memang, munafik jika aku berkata tidak. Karena luka yang sebenarnya bukanlah datang dari tajamnya lidah lawan, tetapi diamnya kawan kita.

Bayang-bayang

Selama ini ternyata bukan hanya aku yang tidak pernah berhenti mencintaimu, tetapi kamu juga yang tidak pernah berhenti mencintainya. Kita terjebak dalam jalur spiral melingkar yang tidak berujung. Aku mungkin hampir berhasil menggapaimu, tapi kamupun juga hampir berhasil menggapainya. Akhirnya semua yang kukejar, semua yang kudengar, semua yang kubaca, semua yang kudapatkan hanyalah bayang-bayangmu.

Coba Katakan Padaku

Coba katakan padaku, bagaimana cara agar aku bisa tidur malam ini sementara aku tahu kamu baru saja terbangun dari segala mimpimu. Aku kalang kabut supaya kamu bisa melihat aku lagi. Ingin rasanya kutumpahkan segala yang terpendam di dalam hatiku, mencoba untuk menarik perhatianmu. Aku ingin memberikan semua tanda, sandi, kode, isyarat dan apalah itu supaya kamu mengerti; betapa kamu sangat kunantikan. Betapa kembalinya dirimu sungguh menjadikan segalanya berbeda. Aku tahu, kamu tidak bermaksud memberikan pertanda apapun, tapi aku terlanjur menjadi bodoh. Sistem penerjemah dalam otakku sudah secara otomatis memiliki kosa kata terjemahannya sendiri untuk tiap-tiap hal yang kamu lakukan. Aduhai, maaf kalau gadis ini begitu gembira dengan kembalinya dirimu. Aku tahu aku bukan apa yang kamu harapkan, tapi, mau bagaimana lagi. Meskipun pernah kukatakan bahwa kamu boleh pergi dan tak kembali atau kembali untuk kemudian pergi lagi; kamu pikir aku seikhlas itu membiarkan kamu pergi? ...

MP #15 Kamu Lagi

Setelah berbulan-bulan lamanya, setelah sekian lama, di sinilah aku duduk menghadapmu, menumpahkan perasaan. Bukan perasaan indah karena jatuh cinta, bukan buncahan perasaan yang meledak-ledak. Ini tentang perasaan yang terlalu lama, sekaligus baru. Sangat asing dan familiar. Mungkin saja perasaan yang sama dengan beberapa purnama yang telah lalu. Aku duduk di sini, memikirkan kamu. Tiba-tiba, di suatu senja, kamu melayang-layang di kepalaku. Bukan tengah malam atau pagi buta, waktu di mana biasanya aku selalu memanggil nama kamu, membayangkan bagaimana seharusnya kita bisa berakhir. Oh, dan kalau kamu mau tahu, aku baik-baik saja sejak kali terakhir aku menulis untukmu. Semuanya bisa teratasi dengan baik. Tidak ada rasa sesak ataupun air mata, hanya rasa yang menyesap pelan-pelan lalu mengabur kemudian menghilang. Tapi kamu tidak pernah hilang, kan? Aku selalu tahu itu. Kamu? Apa kamu tahu hal itu? Mungkin suatu saat, jika kamu membaca tulisan ini, kamu akan bertanya-tanya; apa ya...

Weirdo

Whatta crowded situation! People talk about anything; any random things. I trapped here, keep thinking about the strange thing. Tell me, am I weird? Am I a freak? Did being quiet in the crowd makes you weird? Did sing an old-fashioned song makes you weird? I can't even make them listen to the song I like. I don't want to force them. I never want to force what I believe, so that they believed it too. They have their own right and I respect that. But why can't they respect my choice? They really are strange people. Look, the things I want to tell you was not what I said myself. I got it from somebody else, too. I thank anyone who think about that and makes me could read their thought. What I knew is, if you're going to be weird, be confident about it.